PERMASALAHAN DI TINGKAT
PETANI DAN PELAKU PASAR UNTUK NTFP (ROTAN, KARET DAN GAMOR) DI LOKASI SEKITAR
TN. SEBANGAU
Adri Haufifatih (1810611110022)
Ahmad Baihaqi (1810611110004)
Anni Nor Giyanti (1810611320074)
Endras Indrianti (1810611120026)
Lisdawati (1810611220028)
Nida Khofiana (1810611120020)
Nur Syifa Yarnie (1810611220016)
Rahmad Nur Hadhy (1810611210012)
Rahmad Nur Hadhy (1810611210012)
Rizqiah Maulida (1810611220038)
Saiful Anwar (1810611310058)
Suryadi Suparno Putra (1810611310056)
Tesis :
Karet,
rotan dan gemor merupakan salah satu komoditas perkebunan dan hasil hutan non
kayu yang telah lama diusahakan oleh sebagian besar petani di Kalimantan
Tengah. Ketiga komoditas ini sudah sejak lama menjadi komponen penting untuk
menopang perekonomian dan penghidupan penduduk perdesaan. Permasalahan di tingkat petani berkisar pada rendahnya
produktivitas, harga komoditas rendah, terkendala biaya, penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang rendah dan belum berperannya kelompok tani yang ada dalam membantu
pemasaran produk.
Argumentasi :
Realitas di lapangan menunjukan bahwa petani
atau penduduk desa sebagai produsen relative masih mendapatkan imbalan yang
rendah atas penjualan komoditas produk tersebut. Rentabilita susaha produk karet,
rotan dan gemor sebagian besar tidak diterima petani, tetapi lebih banyak diterima oleh pelaku pasar. Rendahnya rentabilitas
yang diterima petani diduga disebabkan oleh system pasar yang belum berpihak pada
petani.
Pada dasarnya permasalahan di tingkat petani untuk
semua komoditas relative sama, di mana permasalahan yang paling mendasara adalah
bahwa harga produk dinilai petani terlalu murah, karena perbandingannya adalah senantiasa pemenuhan
kebutuhan sehari-hari. Kalau dilihat dari pendapatan petani, maka usaha karet,
rotan dan gemor tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari petani. Untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, penduduk desa umumnya mempunyai usaha lain seperti beternak kecil-kecilan, nelayan, penyadap getah pantung, peramugalam, dan buruh.
Biaya yang cukup mahal dalam pengolahan
lahan menjadi kendala petani yang notabene sebagian besar kekurangan modal
dalam mengembangkan usahanya serta lahan budidaya yang tidak luas mengakibatkan
produktivitas yang rendah menjadi permasalahan utama petani. Beban biaya transportasi
yang secara tidak langsung diberikan oleh pedagang pengumpul kepada petani mengakibatkan
turunnya rentabilitas yang bias dirasakan petani karena jangkauanpasar yang
relatif jauh.
Musim juga mempengaruhi kemampuan petani
dalam memproduksi ketiga komoditas tersebut. Khusus gemor yang tergantung denganalam,
jarak pemanenan yang semakin jauh dan potensi jumlah dan besarannya semakin menurun
menjadi permasalahan yang mana peramu/pencari gemor tidak dapat mengatasinya.
Kondisi iklim yang ekstrim juga berpengaruh terhadap perkembangan ketiga komoditas.
Kebakaran atau banjir yang timbul sebagai akibat kondisi iklim yang ekstrim serta
ditunjang oleh kerusakan lingkungan, merupakan ancaman bagi para petani dalam melaksanakan
aktivitasnya Permasalahan di tingkat pedagang pengumpul umumnya berkisar pada
kasus transportasi, keamanan dan masih banyaknya pungutan liar yang terjadi baik
dilokasi penampungan maupun dalam pengiriman barang. Pengumpulan barang yang
masih tergantung pada akses sungai menuju ke desa mempengaruhi lamanya waktu pengumpulan
barang. Biaya transportasi yang cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya
harga bahan bakar juga menjadi kendala utama di tingkat pedagang pengumpul
Menurunnya kuantitas dan kualitas barang
gemor yang diproduksi dari tahun ke tahun, serta adany abarang subtitusi yang
berasal dari luar Kalimantan mengakibatkan lesunya perdagangan gemor. Adanya barang
substitusi yang berasal dari luar dan beredarnya barang pengganti lain berupa rotan
sintetis, mengakibatkan beberapa pengumpul besar cukup kesulitan dan sebagian ada
yang menutup usahanya dalam pengumpulan gamor dan rotan. Selain itu daerah penghasil
gemor yang terbatas mengakibatkan produksi gemor yang juga semakin menurun.
Peluang untuk meningkatkan pendapatan petani
di antaranya adalah memperpendek rantai pemasaran, optimalisasi peran kelembagaan
yang ada, peningkatan harga jual dan peningkatan kuantitas, kualitas dan kontinuitas
produk yang dihasilkan melalui penguasaan ilmu dan teknologi menyangkut budidaya
pemanenan dan teknologi pascapanen, serta tersedianya industry pengolahan yang bias
menampung hasil petani dengan harga yang kompetitif.
REFERENSI
Judul penelitian: Studi Market Dan Potensi Pasar Untuk NTFP (Rotan, Karet
Dan Gamor) Di Lokasi Sekitar Tn. Sebangau
Disusunoleh: Kissinger, S.Hut.,M.Si.
Hj. RinaMuhayah, S.Hut.
Kerjasama antara Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat dan
WWF Indonesia Kalimantan Tengah
Sumber:
https://tnsebangau.files.wordpress.com/2018/03/kissinger-et-al-2007-ntfp-potential-and-market-study-around-sebangau.pdf
https://pustaka.tnsebangau.com/index.php?p=show_detail&id=2307